Minggu, 08 Mei 2011
Novel Sang Alkemis
ALKEMIS ITU MENGAMBIL BUKU YANG DIBAWA SESEORANG DALAM karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.
Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.
Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin.
"Mengapa engkau menangis?" tanya dewi-dewi itu.
"Aku menangisi Narcissus," jawab danau.
"Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus," kata mereka, "sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat."
"Tapi... indahkah Narcissus?" tanya danau.
"Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?" dewi-dewi bertanya heran. "Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!"
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
"Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri."
"Kisah yang sungguh memikat," pikir sang alkemis.
Tertarik Membaca Novelnya?
Download disini:
DOWNLOD
Sabtu, 07 Mei 2011
Mata Najwa Eps Paduka Presiden

Mukadimah
Bung karno, presiden pertama sekaligus penandatangan proklamasi. Karirnya berangsur tamat, seiring terbunuhnya tujuh pahlawan revolusi.
Pak Harto, perwira tinggi angkatan darat, yang melalui kudeta merangkak, ditakdirkan menjadi presiden kedua RI. Tahun 1998, sang resi dipaksa lengser keprabon oleh dahsyatnya krisis ekonomi dan angin reformasi.
Habibie, satu-satunya pemegang tampuk suksesi di masa transisi. Namun pertanggung jawabannya ditolak, menyusul lepasnya timor timur dari NKRI.
Di persimpangan jaman, muncul Gus Dur, putra sulung pendiri NU, yang terpilih sebagai presiden karena poros tengah bersatu.
Megawati, putri tertua sang proklamator, tampil menggantikan Abdurahman Wahid yang dipecat, karena secara konstitusional dianggap teledor.
Mega, perempuan presiden pertama. SBY presiden pertama, yang dipilih langsung rakyat kita, namun sudah enam tahun memerintah, masih sibuk menjaga citra.
Begitulah hikayat kepresidenan kita, sri paduka yang mulia.
Catatan najwa
Bung Karno, sang penyambung lidah rakyat, dicintai rakyat sebagai pemimpin yang bermartabat.
Pak Harto, rajin bekerja mengejar swasembada bagi negara, maupun keluarga.
Habibie, mendadak menjadi kepala negara, yang melepas Tim-Tim, cuma karena rayuan Australia.
Gus Dur, bukanlah tipe pengalah. Mega jarang bicara, dan SBY tenggelam dalam wacana.
Sejarah mengingatkan, keenam presiden kita, adalah penderita “Delusion of grandeur”, merasa seolah emas, padahal loyang belaka.
Presiden juga manusia. Persis seperti batere, yang ada plus-minusnya.
“Power Tends To Corrupt”, “Absolut Power Corrupt Absolutely”, itulah jawaban sebenar-benarnya.
Maka paduka, hendaklah bijaksana. Jangan jadi satrio peningit, yang memimpin karena merasa punya wangsit. Jangan jadi begawan, yang tinggal di istana atas awan.
Jadilah komandan untuk republik, yang menanggung amanat, mengurus persoalan 230 juta warga yang maha pelik.
Sumber: metrotvnews.com/blog/matanajwa/
Mata Najwa Eps Historika Teks

Mukadimah
Teks pancasila 1 juni 1945, proklamasi 17 agustus 1945, dan supersemar 11 maret 1966, adalah tiga monumen historis, yang mengubah Indonesia.
Ketiga dokumen itu, menempatkan bung karno sebagai perumus pancasila, proklamator bersama bung hatta, sekaligus sebagai korban kudeta merangkak yang dimulai tahun 1965.
Teks merekam penggalan sejarah, yang ada kalanya berliku penuh tipu, menikung tanpa ujung, atau tarik-menarik dalam arus balik.
Maka kita menyaksikan, orde baru menghapus peranan sukarno sebagai penggali pancasila, saat 18 agustus 1945 dijadikan hari lahir ideologi bangsa. Hampir bersamaan pula, pancasila digugat oleh mereka yang memperjuangkan piagam jakarta.
Tak sedikit yang bertanya, apakah teks proklamasi 17 agustus 1945, dirumuskan dalam tekanan jepang yang masih berkuasa . . . ?
Namun supersemarlah, yang paling kontroversial. Surat perintah dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Suharto, menjadi penanda kudeta merangkak, yang tak cuma anak juga memakan bapak.
Catatan najwa
Apa isi supersemar, tetap menjadi misteri. Sumir, banyak tafsir, karena dokumennya sendiri terdiri dari berbagai versi.
Setelah G30s, mahasiswa mendemo Bung Karno. MPRS menolak nawaksara, dan mempreteli kekuasaan sukarno sebagai pemimpin besar revolusi. Militer dan sipil anti-PKI mengucilkannya seorang diri, sebagai pesakitan yang layak dicurigai.
Maka kudeta merangkak supersemar, mengubah Indonesia dari jalan revolusi, menjadi agenda perbaikan ekonomi demi menekan hiper inflasi.
Jadilah supersemar sebuah demarkasi.
Demarkasi antara orde lama dan orde baru, yang menandai berakhirnya dualisme kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto. Demarkasi yang berniat mengkoreksi, sambil membersihkan sejarah dari anasir kiri.
Tapi teks sejarah mudah berbalik. Dua dekade kemudian, saat Pak Harto di puncak kekuasaannya, supersemar kerap dilecehkan, sebagai singkatan “Sudah Persis Seperti Marcos”.
Kita juga belajar banyak hal dari historika teks pancasila dan proklamasi. Pendiri bangsa kita memberi contoh hakiki, bahwa kepentingan golongan, kepentingan politik, bukanlah apa-apa dibandingkan demi ibu pertiwi.
Inilah sajian kami, tentang selembar-dua lembar kertas lawas. Pentingnya, tentu tak sebanding dengan ribuan dokumen mafia pajak dan skandal century yang mudah menjadi bola panas.
Sumber: metrotvnews.com/blog/matanajwa/
Rabu, 04 Mei 2011
Mata Najwa

<!--[if gte mso 9]>
CatatanNajwa eps REVOLUSI 3 IMAM
Mukadimah
Sejak merdeka, Indonesia tak henti dilanda pemberontakan di mana-mana.
Sebagian diotaki belanda, sebagian karena fanatisme suku. Sebagian karena kecewa, sebagian lain bermotif agama.
Mei 1948, Kartosuwiryo proklamirkan diri menjadi imam negara Islam Indonesia. Berkhianat pada proklamasi 17 agustus 1945, yang sempat ia bela.
Bergabung pula dengan proklamasi negara Islam Indonesia, di Sulawesi Selatan, Letkol Kahar Muzakar yang pernah bertempur selama revolusi fisik di Jogja.
Dan di Aceh, daud Beureuh yang tak kecil jasanya, dalam mendukung Republik dan Dwi Tunggal Sukarno-Hatta.
Butuh sekitar 17 tahun, untuk menumpas DI-TII. Tapi perlu setengah abad berikutnya, untuk menjinakkan radikalisasi para penerus ideologi.
Catatan Najwa
Tiga imam, Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh, adalah pejuang, mereka juga ulama. Bagi Republik, mereka pahlawan sekaligus lawan. Berjasa luar biasa, namun berada di persimpangan jaman yang beranjak senjakala.,
Tak cuma DI-TII. Indonesia harus menhadapi permesta, prri, rms, dan pemberontak lain yang masih saudara.
Pemberontakan wajib ditumpas, karena memporak-porandakan stabilitas, serta mengancam kemerdekaan masyarakat luas.
Dulu politik, keyakinan kemudian. Cita-cita mendirikan negara islam berangsur terbenam, tapi tergantikan oleh radikalisasi di antara sebagian pewaris DI-TII.
Aspirasi di-tii, nyata masih ada hingga kini. Diyakini, oleh mereka yang salah kaprah, menganggap teror sebagai jihad islami.
Di masa lalu, pemerintah juga lalai. Demi kepentingan politik, sengaja memelihara anak singa, tanpa sadar singa tetaplah seekor singa.