Sabtu, 07 Mei 2011

Mata Najwa Eps Paduka Presiden



Mukadimah
Bung karno, presiden pertama sekaligus penandatangan proklamasi. Karirnya berangsur tamat, seiring terbunuhnya tujuh pahlawan revolusi.

Pak Harto, perwira tinggi angkatan darat, yang melalui kudeta merangkak, ditakdirkan menjadi presiden kedua RI. Tahun 1998, sang resi dipaksa lengser keprabon oleh dahsyatnya krisis ekonomi dan angin reformasi.

Habibie, satu-satunya pemegang tampuk suksesi di masa transisi. Namun pertanggung jawabannya ditolak, menyusul lepasnya timor timur dari NKRI.

Di persimpangan jaman, muncul Gus Dur, putra sulung pendiri NU, yang terpilih sebagai presiden karena poros tengah bersatu.

Megawati, putri tertua sang proklamator, tampil menggantikan Abdurahman Wahid yang dipecat, karena secara konstitusional dianggap teledor.

Mega, perempuan presiden pertama. SBY presiden pertama, yang dipilih langsung rakyat kita, namun sudah enam tahun memerintah, masih sibuk menjaga citra.

Begitulah hikayat kepresidenan kita, sri paduka yang mulia.



Catatan najwa

Bung Karno, sang penyambung lidah rakyat, dicintai rakyat sebagai pemimpin yang bermartabat.

Pak Harto, rajin bekerja mengejar swasembada bagi negara, maupun keluarga.

Habibie, mendadak menjadi kepala negara, yang melepas Tim-Tim, cuma karena rayuan Australia.

Gus Dur, bukanlah tipe pengalah. Mega jarang bicara, dan SBY tenggelam dalam wacana.

Sejarah mengingatkan, keenam presiden kita, adalah penderita “Delusion of grandeur”, merasa seolah emas, padahal loyang belaka.

Presiden juga manusia. Persis seperti batere, yang ada plus-minusnya.

“Power Tends To Corrupt”, “Absolut Power Corrupt Absolutely”, itulah jawaban sebenar-benarnya.

Maka paduka, hendaklah bijaksana. Jangan jadi satrio peningit, yang memimpin karena merasa punya wangsit. Jangan jadi begawan, yang tinggal di istana atas awan.

Jadilah komandan untuk republik, yang menanggung amanat, mengurus persoalan 230 juta warga yang maha pelik.


Sumber: metrotvnews.com/blog/matanajwa/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar