
Mukadimah
Teks pancasila 1 juni 1945, proklamasi 17 agustus 1945, dan supersemar 11 maret 1966, adalah tiga monumen historis, yang mengubah Indonesia.
Ketiga dokumen itu, menempatkan bung karno sebagai perumus pancasila, proklamator bersama bung hatta, sekaligus sebagai korban kudeta merangkak yang dimulai tahun 1965.
Teks merekam penggalan sejarah, yang ada kalanya berliku penuh tipu, menikung tanpa ujung, atau tarik-menarik dalam arus balik.
Maka kita menyaksikan, orde baru menghapus peranan sukarno sebagai penggali pancasila, saat 18 agustus 1945 dijadikan hari lahir ideologi bangsa. Hampir bersamaan pula, pancasila digugat oleh mereka yang memperjuangkan piagam jakarta.
Tak sedikit yang bertanya, apakah teks proklamasi 17 agustus 1945, dirumuskan dalam tekanan jepang yang masih berkuasa . . . ?
Namun supersemarlah, yang paling kontroversial. Surat perintah dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Suharto, menjadi penanda kudeta merangkak, yang tak cuma anak juga memakan bapak.
Catatan najwa
Apa isi supersemar, tetap menjadi misteri. Sumir, banyak tafsir, karena dokumennya sendiri terdiri dari berbagai versi.
Setelah G30s, mahasiswa mendemo Bung Karno. MPRS menolak nawaksara, dan mempreteli kekuasaan sukarno sebagai pemimpin besar revolusi. Militer dan sipil anti-PKI mengucilkannya seorang diri, sebagai pesakitan yang layak dicurigai.
Maka kudeta merangkak supersemar, mengubah Indonesia dari jalan revolusi, menjadi agenda perbaikan ekonomi demi menekan hiper inflasi.
Jadilah supersemar sebuah demarkasi.
Demarkasi antara orde lama dan orde baru, yang menandai berakhirnya dualisme kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto. Demarkasi yang berniat mengkoreksi, sambil membersihkan sejarah dari anasir kiri.
Tapi teks sejarah mudah berbalik. Dua dekade kemudian, saat Pak Harto di puncak kekuasaannya, supersemar kerap dilecehkan, sebagai singkatan “Sudah Persis Seperti Marcos”.
Kita juga belajar banyak hal dari historika teks pancasila dan proklamasi. Pendiri bangsa kita memberi contoh hakiki, bahwa kepentingan golongan, kepentingan politik, bukanlah apa-apa dibandingkan demi ibu pertiwi.
Inilah sajian kami, tentang selembar-dua lembar kertas lawas. Pentingnya, tentu tak sebanding dengan ribuan dokumen mafia pajak dan skandal century yang mudah menjadi bola panas.
Sumber: metrotvnews.com/blog/matanajwa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar